Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang berkembang. Oleh karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang seharusnya terjadi seiring dengan perubahan kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pada bidang pendidikan di semua tingkatan.
Faktor yang dapat mempengaruhi tercapainya tujuan tersebut adalah proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan serangkaian peristiwa eksternal yang dirancang dan memilik pengaruh terhadap proses-proses belajar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar. Peristiwa-peristiwa yang bersifat eksternal ini merupakan upaya mendukung proses internal dalam diri siswa. Dengan demikian pembelajaran kurang bermakna jika hanya berorentasi pada keberlangsungan tatap muka tanpa suatu perencanaan, tujuan, dan pemahaman terhadap proses internal belajar siswa.
Pembelajaran konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa dan cara siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya. Pembelajaran ini juga akan memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban atau cara yang benar. Sehingga siswa akan memperoleh kesempatan untuk berpikir tentang pengalamanya, menjadikan siswa berpikir kreatif, imajinatif dan mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat.
Untuk mengetahui adanya kemajuan motivasi/semangat belajar dapat di lihat dari sikap dan kemauan siswa untuk segera mengerjakan job yang telah di tugaskan. Apakah siswa dengan segera bekerja ataukah siswa biasa saja. Sedangkan kemajuan dari hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai evaluasi dari kompetensi yang harus di selesaikan. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan nilai kompetensi ataukah sebaliknya nilai menjadi turu
Rumusan Masalah
Dari uraian tersebut maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Apakah Pembelajaran Kontruktivisme dengan strategi problem solving dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas II pada materi sistem pengapian di SMK N2 Kendal?
Pemecahan Masalah
Bertolak dari permasalahan yang ada, penulis mencoba dengan
Pembelajaran Kontruktivisme dengan strategi problem solving. Pembelajaran
Kontruktivisme dengan strategi problem solving merupakan aktivitas
pembelajaran yang mempergunakan spesifikasi dari pengetahuan dan
keterampilan serta penerapan dari pengetahuan dan keterampilan tersebut
dalam suatu pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang disyaratkan. Proses
pembelajaran dilakukan dengan urutan yang sama dengan pembelajaran
konvensional, hanya pada penjelasan materi dan mencari serta menganalisa
kerusakan dengan menggunakan modul.dan latihan unjuk kerja. Data yang
dipakai dalam hal ini ada data kategori strategi pembelajaran problem
solving.
Dengan menggunakan pembelajaran kontruktivisme dengan strategi
problem solving ini, hasil pembelajaran kompetensi Sistem Pengapian
dalam bentuk nilai diharapkan akan meningkat menjadi minimal 0,5 rata-rata
kelas.
Landasan Teori
Hasil pembelajaran berupa perubahan pada peserta didik ke arahyang lebih baik. Proses pembelajaran dianggap berhasil manakala terdapat
perubahan pada diri siswa, perubahan bukan sekedar berubah namun
perubahan yang relatif tetap sebagai akibat dari proses belajar yang
memungkinkan siswa melakukan pemahaman pengetahuan atau kinerja dalam
praktek. Menurut Gagne (1985) terdapat dua faktor utama yang menentukan
hasil belajar, yaitu peristiwa belajar dan kondisi belajar. Peristiwa-peristiwa
pembelajaran dapat merupakan faktor eksternal yang berupa keterangan-
keterangan dari guru dan bahan-bahan pelajaran. Namun demikian dalam
pembelajaran mandiri peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembelajaran
sebagian sebagai faktor internal.
Motivasi Belajar
Motivasi belajar bisa timbul karena adanya faktor dari dalam
diri individu atau faktor dari dalam diri sendiri yang di sebabkan
oleh dorongan atau keinginan akan kebutuhan belajar, harapan,
dan cita-cita serta rasa ingin tau. Faktor dari luar diri individu
juga akan mempengaruhi adanya motivasi belajar. Faktor
dorongan dari luar seperti adanya penghargaan, lingkungan
belajar yang menyenangkan, dan kegiatan belajar yang menarik.
Motivasi dan belajar adalah hal yang saling mempengaruhi.
Belajar adalah kegiatan yang mengubah sikap, tingkah laku dan
pola pikir melalui latihan dan pengalaman sehingga menjadi
lebih baik.. Motivasi belajar adalah daya penggerak dari dalam
diri individu untuk melakukan kegiatan belajar untuk menambah
pengetahuan dan ketrampilan serta pengalaman. Motivasi tumbuh
karena adanya keinginan untuk mengetahui dan memahami sesuatu
dan mendorong serta mengarahkan minat belajar siswa sehingga
bersungguh-sunguh untuk belajar dan termotivasi untuk mencapai
prestasi.
Pembelajaran Konstruktivisme Teori belajar konstruktivisme merupakan teori perkembangan mental Piaget. Dalam Iskandar (2009:118) Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu: (1) sensory motor, (2) pre operational, (3) concerete operational, (4) formal operetional. Sedangkan Russefendi dalam Iskandar (2009:118) menyampaikan bahwa teori belajar konstruktivesme berkenaan dengan kesiapaan anak untuk belajar yang dikemas dalam tahap perkenbangan intelektual dari lahir hinga dewasa.
Teori konstruktivisme menyatakan bahwa belajar akan lebih
berhasil apabila disesuaika denga tahap-tahap perkembangan peserta
didik. Peserta didik hendaknya di berikan kesempatan untuk
melakukan eksperimen dengan obyek fisik yang di dukung adanya
interaksi sesama siswa dan dibantu guru. Guru diharapkan banyak
memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi
dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal
dari lingkungan.