Rabu, 28 Juli 2010

Penerapan Pembelajaran Konstruktivisme dengan Strategi Problem Solving untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Kompete

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang berkembang. Oleh karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang seharusnya terjadi seiring dengan perubahan kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pada bidang pendidikan di semua tingkatan.

Faktor yang dapat mempengaruhi tercapainya tujuan tersebut adalah proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan serangkaian peristiwa eksternal yang dirancang dan memilik pengaruh terhadap proses-proses belajar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar. Peristiwa-peristiwa yang bersifat eksternal ini merupakan upaya mendukung proses internal dalam diri siswa. Dengan demikian pembelajaran kurang bermakna jika hanya berorentasi pada keberlangsungan tatap muka tanpa suatu perencanaan, tujuan, dan pemahaman terhadap proses internal belajar siswa.

Pembelajaran konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa dan cara siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya. Pembelajaran ini juga akan memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban atau cara yang benar. Sehingga siswa akan memperoleh kesempatan untuk berpikir tentang pengalamanya, menjadikan siswa berpikir kreatif, imajinatif dan mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat.

Untuk mengetahui adanya kemajuan motivasi/semangat belajar dapat di lihat dari sikap dan kemauan siswa untuk segera mengerjakan job yang telah di tugaskan. Apakah siswa dengan segera bekerja ataukah siswa biasa saja. Sedangkan kemajuan dari hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai evaluasi dari kompetensi yang harus di selesaikan. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan nilai kompetensi ataukah sebaliknya nilai menjadi turu


Rumusan Masalah

Dari uraian tersebut maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1. Apakah Pembelajaran Kontruktivisme dengan strategi problem solving dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas II pada materi sistem pengapian di SMK N2 Kendal?

Pemecahan Masalah

Bertolak dari permasalahan yang ada, penulis mencoba dengan

Pembelajaran Kontruktivisme dengan strategi problem solving. Pembelajaran

Kontruktivisme dengan strategi problem solving merupakan aktivitas

pembelajaran yang mempergunakan spesifikasi dari pengetahuan dan

keterampilan serta penerapan dari pengetahuan dan keterampilan tersebut

dalam suatu pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang disyaratkan. Proses

pembelajaran dilakukan dengan urutan yang sama dengan pembelajaran

konvensional, hanya pada penjelasan materi dan mencari serta menganalisa

kerusakan dengan menggunakan modul.dan latihan unjuk kerja. Data yang

dipakai dalam hal ini ada data kategori strategi pembelajaran problem

solving.

Dengan menggunakan pembelajaran kontruktivisme dengan strategi

problem solving ini, hasil pembelajaran kompetensi Sistem Pengapian

dalam bentuk nilai diharapkan akan meningkat menjadi minimal 0,5 rata-rata

kelas.


Landasan Teori

Hasil pembelajaran berupa perubahan pada peserta didik ke arah

yang lebih baik. Proses pembelajaran dianggap berhasil manakala terdapat

perubahan pada diri siswa, perubahan bukan sekedar berubah namun

perubahan yang relatif tetap sebagai akibat dari proses belajar yang

memungkinkan siswa melakukan pemahaman pengetahuan atau kinerja dalam

praktek. Menurut Gagne (1985) terdapat dua faktor utama yang menentukan

hasil belajar, yaitu peristiwa belajar dan kondisi belajar. Peristiwa-peristiwa

pembelajaran dapat merupakan faktor eksternal yang berupa keterangan-

keterangan dari guru dan bahan-bahan pelajaran. Namun demikian dalam

pembelajaran mandiri peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembelajaran

sebagian sebagai faktor internal.



Motivasi Belajar

Motivasi belajar bisa timbul karena adanya faktor dari dalam

diri individu atau faktor dari dalam diri sendiri yang di sebabkan

oleh dorongan atau keinginan akan kebutuhan belajar, harapan,

dan cita-cita serta rasa ingin tau. Faktor dari luar diri individu

juga akan mempengaruhi adanya motivasi belajar. Faktor

dorongan dari luar seperti adanya penghargaan, lingkungan

belajar yang menyenangkan, dan kegiatan belajar yang menarik.

Motivasi dan belajar adalah hal yang saling mempengaruhi.

Belajar adalah kegiatan yang mengubah sikap, tingkah laku dan

pola pikir melalui latihan dan pengalaman sehingga menjadi

lebih baik.. Motivasi belajar adalah daya penggerak dari dalam

diri individu untuk melakukan kegiatan belajar untuk menambah

pengetahuan dan ketrampilan serta pengalaman. Motivasi tumbuh

karena adanya keinginan untuk mengetahui dan memahami sesuatu

dan mendorong serta mengarahkan minat belajar siswa sehingga

bersungguh-sunguh untuk belajar dan termotivasi untuk mencapai

prestasi.

Pembelajaran Konstruktivisme

Teori belajar konstruktivisme merupakan teori perkembangan mental Piaget. Dalam Iskandar (2009:118) Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu: (1) sensory motor, (2) pre operational, (3) concerete operational, (4) formal operetional. Sedangkan Russefendi dalam Iskandar (2009:118) menyampaikan bahwa teori belajar konstruktivesme berkenaan dengan kesiapaan anak untuk belajar yang dikemas dalam tahap perkenbangan intelektual dari lahir hinga dewasa.

Teori konstruktivisme menyatakan bahwa belajar akan lebih

berhasil apabila disesuaika denga tahap-tahap perkembangan peserta

didik. Peserta didik hendaknya di berikan kesempatan untuk

melakukan eksperimen dengan obyek fisik yang di dukung adanya

interaksi sesama siswa dan dibantu guru. Guru diharapkan banyak

memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi

dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal

dari lingkungan.




Selasa, 02 Maret 2010

desain otak manusia.

Saat kita merenung, cobalah pertimbangkan teori yang saya dapat bahwa otak manusia ternyata di design untuk mencari nikmat dan menghindari sengsara. Nah berdasarkan teori tersebut, saat kita merenung, cobalah bayangkan betapa sengsaranya kita kalau kita tidak melakukan perubahan apapun dimana kita tetap akan merasakan kemacetan dijalan, penuh sesaknya bila naik kendaraan umum, kurangnya waktu kita untuk keluarga, himpitan hutang yang semakin membengkak , dan kesengsaraan lain yang akan kita hadapi bila kita tidak berubah dan dibarengi dengan emosi yang dahsyat agar perasaan sengsara tersebut benar-benar mengganggu alam bawah sadar kita. Begitu juga sebaliknya saat kita membayangkan keindahan kehidupan kita bila kita mau melakukan perubahan dan juga harus dibarengi dengan emosi yang kuat sehingga alam bawah sadar kita akan membantu mengarahkan diri kita untuk mencapai kenikmatan yang sudah kita bayangkan dan menghindari kesengsaraan yang juga sudah kita bayangkan.

Cobalah lakukan hal tersebut di saat kita dalam kondisi rilek dan lakukan beberapa kali dengan memanggil emosi dalam diri kita supaya segera terjadi perubahan yang kita inginkan didalam diri kita. Karena ada orang bijak yang mengatakan, kalau kita bisa menguasai diri kita, maka kita akan bisa menguasai dunia. Untuk menguasai diri kita, kita harus bisa berbicara dengan alam bawah sadar kita yang menguasai 86%-90% dari diri kita dimana alam bawah sadar bertugas untuk melindungi diri majikannya (diri kita) dari kesengsaraan dan mencari kenikmatan yang diinginkan.Semoga bermanfaat.